BRIN Imbau Waspada Ancaman Gempa Megathrust dan Tsunami

METROSTRAIGHT.COM,- Indonesia adalah negeri yang berdiri di atas pertemuan tiga lempeng besar dunia: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Pertemuan itu membentuk jalur panjang zona subduksi dari barat Sumatra, sepanjang selatan Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara yang dikenal sebagai megathrust. Di sanalah energi raksasa terus menumpuk, menunggu saat untuk dilepaskan.
Ketika kuncian antarlempeng itu patah, bumi berguncang. Dalam hitungan detik, laut yang biasanya menenangkan bisa berubah menjadi gelombang raksasa yang menyapu daratan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan penting bahwa potensi tsunami raksasa di wilayah selatan Jawa bersifat berulang, dengan siklus sekitar 600–800 tahun.
Temuan tersebut merupakan hasil riset paleotsunami yang dilakukan oleh tim Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG).
Peneliti Ahli Madya PRKG BRIN, Purna Sulastya Putra, menjelaskan paleotsunami adalah kajian ilmiah untuk mengenali kejadian tsunami purba yang tidak tercatat dalam sejarah manusia.
“Riset ini sangat penting, karena selatan Jawa terus berkembang dengan pembangunan infrastruktur strategis, sementara ancaman tsunami raksasa yang berulang justru belum sepenuhnya dipahami dan diantisipasi,” kata Peneliti Ahli Madya PRKG BRIN, Purna Sulastya Putra dalam keterangan resmi dikutip, Selasa (19/08/2025).
Ancaman ini bukan sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan geologi. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan, tapi para ahli tahu bahwa pesisir barat Sumatra, selatan Jawa–NTT, Maluku, dan Sulawesi adalah garis depan.
Purna mengimbau data paleotsunami yang dihasilkan BRIN dapat menjadi fondasi dalam penetapan kebijakan tata ruang dan mitigasi bencana.
BRIN juga mengajak, edukasi kebencanaan berbasis riset lebih ditingkatkan baik di sekolah-sekolah, media massa sampai komunitas lokal.
Sebagai peneliti, dia meminta masyarakat agar tetap waspada dan mematuhi peringatan dan arahan dari pihak pemangku kepentingan di daerah masing-masing.
“Kalau terjadi gempa kuat di dekat pantai, jangan tunggu sirine atau pemberitahuan. Segera evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Alam sering memberi sinyal pertama, dan kesiapsiagaan adalah kunci keselamatan,” tandasnya.
Megathrust adalah ancaman besar, tetapi bukan akhir segalanya. Pengetahuan, kesiapsiagaan, dan tata ruang yang bijak bisa menjadi perisai. Indonesia tak bisa menghentikan gerakan lempeng bumi, namun kita bisa memilih: menjadi korban tanpa persiapan, atau menjadi bangsa tangguh yang belajar hidup berdampingan dengan gempa dan tsunami. (*)





