Ini 6 Penyebab Harga Sayuran di Tingkat Petani Naik-Turun

METROSTRAIGHT.COM,- Naik turun harga sayur-mayur di Indonesia adalah sebuah keniscayaan yang tak terprediksi. Senyum lebar petani hanya muncul di musim tertentu ketika hasil penennya dibeli dengan harga tinggi.
Sebaliknya di musim berikutnya, sedih, kecewa campur aduk tatkalah harga jual anjlok tidak sesuai dengan ongkos tanam hingga perawatan.
Sehingga tak jarang petani membiarkan hasil tanam sayur-mayurnya membusuk di lahan atau membuangnya ke jalan.
Bukan tanpa alasan, karena komoditas sayur cepat rusak. Jika tidak dijual cepat meski harga yang mencekik, maka pilihan terburuknya membiarkan membusuk.
Hasil penulusaran dari berbagai artikel, fluktualisi harga ini sebenarnya karena faktor hukum alam dan pasar yang saling berbenturan.
Seperti ketergantungan pada cuaca. Kala musim hujan terlalu lebat, tanaman rentan terhadap serangan hama dan pembusukan.
Begitu pun musim kemarau, dapat mempengaruhi pertumbuhan bahkan bisa mati. Hal inilah yang membuat pasokan langka dan mendorong harga melonjak drastis.
Ada pula kebiasaan pola tanam serentak. Melihat harga satu komiditas tanaman sedang mahal, petani ikut-ikutan menanam tanaman itu.
Fatalnya, saat musim panen tiba pasar melimpah dengan komoditas yang sama. Akibatnya, pasokan pemimpah, permintaan stabil dan harga jatuh dalam waktu yang lama.
Beberapa Penyebab Harga Sayur-Mayur di Tingkat Petani Naik-Turun:
1. Faktor Cuaca dan Musim.
Tak bisa dipungkiri, pertanian sayur bergantung kondisi iklim atau cuaca. Gagal panen saat musim hujan ekstrem, risiko busuk akar atau serangan hama meningkat. Akibatnya, pasokan di pasar berkurang memicu harga naik.
Sebaliknya, pada kondisi cuaca baik petani memanen komoditas yang sama secara bersamaan, terjadi kelebihan pasokan, membuat harga jatuh di bawah modal.
2. Sifat Komoditas
Komoditas tanaman sayuran tidak bisa disimpan lama tanpa teknologi pendingin. Mau tidak mau hasil penen dijual cepat meski dengan harga berapapun yang ditawarkan pasar.
3. Rantai Distribusi
Harga di tingkat petani sering kali jauh berbeda dengan harga di pasar ritel karena ketergantungan pada pengepul.
Petani tak terhindarkan pada posisi tawar yang lemah dalam mengesekusi harga. Tidak jarang, perantara dari kebun ke konsumen membuat harga di pasar tinggi tetapi diterima petani tetap rendah.
4. Fluktuasi Biaya Produksi
Harga bibit, pupuk, dan pestisida yang tidak stabil sangat memengaruhi margin keuntungan petani. Jika biaya input naik sementara harga jual sayur tetap atau turun, petani akan mengalami kerugian besar.
5. Kebiasaan Tanam Serentak
Petani ikut-ikutan menanam komoditas yang harganya sedang tinggi di musim sebelumnya secara bersamaan. Akibatnya, pasar dibanjiri oleh satu jenis sayuran yang sama, sehingga harganya anjlok karena hukum permintaan dan penawaran.
6. Perubahan Permintaan Pasar
Kejadian tertentu dapat memengaruhi permintaan secara mendadak seperti moment Hari Raya mendorong harga naik tajam.
Karena kebijakan pemerintah, sehubungan dengan impor atau subsidi pupuk yang dapat memengaruhi psikologi pasar dan ketersediaan stok.
(*/er)





