
METROSTRAIGHT.COM, Tomohon- Pelayanan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), kepemimpinan perempuan adalah keniscayaan dalam panggilan pelayanan.
Di tengah tantangan perubahan zaman, globalisasi, digitalisasi serta dinamika kehidupan jemaat, banyak pemimpin dari kalangan perempuan telah memberikan warna baru dalam kepemimpinan GMIM disemua aras pelayanan.
Mereka berhasil membuktikan kepemimpinan dengan keteladanan, kelembutan, kepekaan, kemampuan mendengar, bahkan ketegasan Iman dan daya tahan dalam menghadapi konflik.
Ini bukan sekedar persepsi, namun fakta pemimpin perempuan hadir tidak hanya bekerja dan melayani dibalik layar tetapi menjadi pemimpin yang melayani dengan keteladanan.
Sejumlah platform media sosial belakangan ini mulai ramai menyuarakan para kandidat pemimpin baru Sinode GMIM seperti; Pdt. David Tulaar, Pdt. Yani Rende, Pdt. Hendry Runtuwene, Pdt. Adolf Wenas dan dari kalangan perempuan Pdt. Dr. Joice Ch W Sondakh MTh.
Pdt Joice sendiri saat ini sebagai Wakil Ketua Bidang Pekerja GMIM dan Pelayan Khusus Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM.
Beliau memiliki rekam jejak pengalaman pelayanan kurang lebih 33 tahun. Sehingga disebut-sebut salah satu figur perempuan yang tepat untuk dipercayakan memegang tongkat estafet Ketua Sinode GMIM yang baru.
Dalam kepemimpinannya sebagai Pendeta GMIM, Pdt Joice mengawali tugas pelayanan dan Ketua BPMJ GMIM Efrata Kaneyan (1992-1996).
Kemudian, Ketua BPMJ GMIM Syalom Tondegesan (1996-2002), serta Ketua BPMJ GMIM Imanuel Kawangkoan Bawah (2002-2006).





