Ekonomi & BisnisNasional

Rupiah Melemah Berdampak ke Masyarakat Desa

METROSTRAIGHT.COM, Jakarta- Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp 18.000 per dolar tidak bisa dipungkiri ikut berdampak ke masyarakat Desa.

Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof Dr Anton Agus Setyawan, SE, MSi, dilansir dari Detik.com, Sabtu (13/06/2026), inflasi akan bergerak naik, sehingga memicu kenaikan harga BBM.

Dengan begitu, biaya transportasi serta distribusi barang ikut naik. Maka pada giliranya harga kebutuhan pokok berpotensi ikut naik, sementara daya beli masyarakat melemah.

“Kondisi ini sebagai efek berantai yang saling berkaitan antara pelemahan kurs, inflasi, dan konsumsi masyarakat.
Kalau subsidi dilepas dan harga BBM naik, dampaknya pasti ke inflasi. Ketika daya beli turun, aktivitas ekonomi masyarakat ikut melambat. Itu yang dibaca pasar,” jelas Setyawan.

Dia juga menekankan bahwa rupiah yang melemah terhadap dolar tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar atau masyarakat yang bepergian ke luar negeri. Tetapi juga masyarakat desa ikut terdampak karena ketergantungan pada barang impor di Indonesia.

Seperti halnya, pakan ternak masih menggunakan jagung impor, sementara produksi tahu dan tempe bergantung pada kedelai impor. Selain itu, barang elektronik, smartphone, hingga otomotif juga masih memiliki kandungan impor yang besar.

“Banyak industri kita masih tergantung impor. Jadi pelemahan rupiah tetap berdampak sampai ke masyarakat desa lewat kenaikan harga barang,” imbuhnya. (*)

Back to top button